tunggu sebentar ya kk...
search

How to Explore Opportunity at Economic Disruption 3 Keynote Takeaway from CEO Talk Event

Event ini diselenggarakan di Studio 1 Epicentrum XXI Kuningan pada hari Selasa 17 April 2018 oleh Ikatan Alumni (Iluni) Magister Manajemen Universitas Indonesia (MMUI) bekerja sama dengan Selasar.com. Talkshow yang menghadirkan 2 orang pembicara utama, yaitu Achmad Zaky (CEO Bukalapak) dan Dony Oskaria (CEO Transcorp). Kedua pembicara masing-masing mewakili generasi milenial dengan karakteristik kultur yang agile dan generasi X yang lebih senior dengan karakteristik kultur yang lebih rigid. Berikut 3 poin penting yang saya tangkap dari acara tersebut:

 

KEYNOTE 1: ERA KELIMPAHAN EKONOMI

Krisis ekonomi dunia tahun 2008 disebabkan karena amerika terlalu banyak mencetak uang sehingga sekarang uang itu ada di mana-mana. Jadi dunia saat ini sebenarnya berada dalam era keberlimpahan ekonomi sehingga yang namanya modal atau capital bukan lagi menjadi suatu competitive advantage. Ide dan pemikiran yang mampu atau berpotensi memberi solusi atas permasalahan lah yang bisa menjadi keunggulan daya saing.

Kalau dulu anak muda tidak begitu dianggap penting, sekarang dengan perkembangan teknologi digital yang begitu pesat, perusahaan bisa takut dengan anak muda yang baru lulus. Entah ada ide apa di dalam kepala anak muda yang mungkin bisa mengganggu stabilitas perusahaannya.

Bukalapak awalnya dimulai dari ide memajukan ekonomi UKM. Ide tersebut ditelurkan di kamar kos. Dengan berbekal proposal para founder berusaha mencari dana 100 juta ke investor namun ditolak di mana-mana. Saking kekurangan dananya, para founder sampai makan nasi kuah doank di kos. Sampai suatu hari ada seorang angel investor dari Jepang yang mampir ke kos mereka dan memberikan mereka dana investasi 2M. Investor tersebut tidak disuguhkan pemandangan bonafit ketika itu (kamar kos gitu lho..ya elah) tapi beliau percaya akan ide dan mimpi para founder tersebut. Di situ lah dimulai titik balik Bukalapak.

Sekarang Bukalapak sudah menyandang status startup unicorn dengan valuasi lebih dari 1 Milyard USD. Banyak investor beramai-ramai invest di Bukalapak, namun Zaky membuat sistem sehingga tidak ada investor dominan di Bukalapak yang berpotensi menyetir arah kebijakan perusahaan. Dengan demikian,  kendali perusahaan tetap ada pada CEO nya. Hal ini penting karena seorang CEO harus memahami bisnis perusahaannya luar dalam, ibaratnya harus cium tanahnya dulu. Kalau CEO diganti, biasanya feeling perusahaannya sudah berbeda. Contoh saja Yahoo, Blackberry yang begitu CEO diganti rasanya jadi beda.

 

KEYNOTE 2: EKOSISTEM BISNIS

Di tengah jatuhnya berbagai perusahaan konvensional karena perkembangan teknologi digital, Transcorp masih berdiri kokoh seakan-akan tidak terganggu. Kuncinya kata pak Dony ialah mereka jeli melihat perubahan perilaku konsumen dan berinovasi mengikuti perubahan tersebut.

Transcorp membangun sebuah ekosistem bisnis di mana setiap unit bisnis dari grup perusahaan Transcorp saling mendukung satu sama lain. Sebelumnya tidak ada istilah ekosistem bisnis ketika Transcorp melakukan hal tersebut Mereka menggunakan istilah Web Development Business kalau saya tidak salah ingat. Ekosistem bisnis Transcorp berkutat di sekitar konsumen.

Pak Dony mencontohkan, mereka berbisnis di bidang media, jasa keuangan, travel, fashion, retail, properti, dll sehingga ketika orang berbelanja apapun, mereka siap mensuplai kebutuhannya. Mungkin semacam Palugada (apa yang lu mau gw ada) kali ya.

Di era economic disruption ini, bisnis retail yang terkena dampak baru 3% saja, 97% masih berbasis konvensional. Hal ini jika dilihat dari sudut pandang pelaku ekonomi digital berarti masih banyak kesempatan untuk berkembang. Bayangkan saja baru 3% sudah melahirkan unicorn seperti Bukalapak, Tokopedia, dll. Di sisi lain, angka tersebut berarti memberi gambaran bahwa masih ada waktu bagi perusahaan konvensional untuk beradaptasi terhadap perubahan zaman.

 

KEYNOTE 3: KETERBUKAAN PIKIRAN

Transformasi digital tidak terelakkan, tapi tidak dipungkiri kendali perusahaan saat ini masih didominasi oleh generasi X. Bagaimana menjembatani pola pikir yang berbeda antara generasi milenial dengan generasi X ini? Kuncinya adalah keterbukaan pikiran, khususya dari top management. Transcorp kebetulan memiliki pimpinan yang berpikiran cukup terbuka sehingga mereka lebih willing untuk berinvestasi terhadap suatu hal baru yang mungkin belum terbukti hasilnya. Misalnya ketika mereka menghire anak muda berusia 27 tahun yang pernah bekerja di perusahaan kelas dunia dan meminta gaji US$400.000 per tahun (setara 5 milyar per tahun atau 400 juta per bulan). Tanpa keterbukaan pikiran dari top management, hal semacam itu akan sulit diterima. Pak Dony mencontohkan misalnya kalau ada ide project yang memerlukan investasi relatif besar dan belum tentu memberikan keuntungan pasti di masa depan disampaikan ke board of directors, ide tersebut pasti tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk dibuktikan.

 

Nah, demikian ketiga poin penting yang saya ingat dari acara tersebut. Kalau ada yang kebetulan ikut juga di acara tersebut dan ingat ada poin penting lain yang terlewatkan di artikel ini, silakan beri komentar di bawah ini ya.

Share it on your social network:

Or you can just copy and share this url
Related Posts