loading...
cari

Cara Kreatif Dine In Di New Normal

New normal sudah di depan mata. Masyarakat sudah akan kembali beraktivitas seperti biasa namun secara sadar (hopefully) menerapkan protokol kesehatan untuk meminimalkan risiko terpapar COVID-19 dalam aktivitasnya. Orang-orang yang sudah gatal pengen nongkrong atau dine in di resto favoritnya juga sudah bisa kalau tempatnya belum gulung tikar.

Di tulisan ini gw mau share beberapa cara kreatif yang bisa diterapkan oleh pemilik resto saat customer mereka dine in. Sebelum gw lanjut, gw mau kasih disclaimer dulu. Tulisan ini murni pemikiran gw pribadi sebagai seorang digital creator.

INTRO

Protokol kesehatan new normal di restoran membatasi interaksi customer dengan pihak resto saat dine in. Ini bisa jadi pengalaman yang kurang menyenangkan bagi sebagian orang. Supaya orang lebih prefer dine in, pihak resto harus menemukan cara-cara kreatif untuk meningkatkan interaksi sambil tetap menjaga protokol kesehatan. Apalagi kalau restorannya memang menjual dine in experience sebagai salah satu selling pointnya. Berikut gw share beberapa cara kreatif yang bisa diterapkan pemilik resto untuk meningkatkan interaksi dengan customer mereka saat dine in.

 

Buku Menu Digital

Bye-bye buku menu fisik! Sekarang pilihan para pemilik resto untuk menampilkan menu restorannya ke pengunjung cuma ada 2:

  1. Menu board besar di dekat kasir seperti yang diterapkan KFC, Starbucks, dll.
  2. Buku menu digital

Menu board mengharuskan orang untuk melihatnya dari dekat supaya terbaca jelas. Ini berpotensi kompromi ke physical distancing jika terjadi antrian yang ramai. Waktu pelayanan setiap customer juga menjadi relatif lebih lama karena customer baru bisa mulai memilih menu yang diinginkan ketika dia sudah berada di dekat kasir. customer berikutnya mungkin akan sedikit kesulitan melihat menu board karena harus menjaga jarak dengan customer di depannya.

Menurut gw, solusi ideal ialah dengan menggunakan buku menu digital yang bisa diakses lewat web dan/atau di-download oleh customer via free wifi restorannya (penting nih untuk para fakir kuota). Ketika terjadi antrian panjang pun, customer yang terpaksa harus menunggu di luar restoran bisa memanfaatkan waktu tunggunya untuk memilih-milih menu yang ditawarkan sehingga ketika gilirannya tiba, customer sudah siap untuk memesan.

Dengan buku menu digital, pemilik resto juga bisa berhemat karena tidak perlu mencetak buku menu fisik atau menu board. Jika suatu hari ada perubahan menu, tidak perlu cetak lagi. Cukup update saja halaman web atau file menunya. Linknya tetap sama.

Bagaimana cara customer mendownload buku menunya? QR code. Jujur, customer bakal malas kalau harus mengetik alamat url yang biasanya panjang atau susah dibaca hanya untuk melihat buku menunya. QR code bisa jadi solusinya. Tinggal scan pakai HP, buku menu pun bisa dilihat atau diunduh. Satu kelebihan buku menu digital: bisa dibuat video animasi.

Gw yakin QR code ini juga akan semakin banyak dipakai oleh pelaku usaha untuk meminimalkan kontak fisik selama dine in. Cuman nanti akan muncul permasalahan baru. Bagaimana pemilik resto bisa encourage customernya untuk scan QR code mereka? Salah satunya bisa diselipin promo tertentu yang hanya bisa didapatkan kalau kodenya discan. Menarik kan?

 

Chat Waitress

Pelayan tidak perlu datang ke meja customer untuk melayani mereka. Customer tinggal chat sama pelayannya aja via WhatsApp atau aplikasi chatting lainnya (gw sih rekomen telegram ya, bisa bikin chatbot soalnya) untuk order. Jadi pelayan cuma datang ke meja customer hanya untuk mengantarkan pesanan saja. Ga perlu tanya-jawab yang berpotensi nyebarin droplet meskipun udah pada pakai masker dan face shield karena gw yakin masih banyak orang yang ga bener cara pakai maskernya.

Biar customer mudah untuk chat, pakailah QR code yang kalau discan langsung kebuka chat windownya. Jadi customer ga perlu repot save nomor WhatsApp restonya dulu. Resto juga bisa farming nomor hp customer juga buat blast promo atau info lain ke mereka. Tentunya etikanya minta consent dulu ke customernya. Kalau keberatan ya jangan di-spam. Ntar direport sama customernya kan repot juga restonya image nya jadi jelek.

Supaya pemilik resto ga galau, bikin fitur chat ini opsional aja. Kalau mereka prefer dilayani langsung, ya silakan. Kalau mau chatting aja juga monggo.

 

Contactless Payment

Pembayaran tunai dan kartu akan segera tergantikan oleh pembayaran tanpa kontak fisik. Lagi-lagi udah kebaca kan arahnya ke mana? QR code. Apalagi Bank Indonesia udah bikin QRIS, jadi sekarang di kasir ga perlu pajang banyak-banyak QR code dari tiap penyedia layanan payment gateway. Cukup 1 QR code untuk semua.

Gw yakin ke depannya ini bakalan banyak kepake banget sama resto-resto dan tempat usaha lain yang pake kasir. Cuma gw lihat desain QRIS kok kaku amat ya..buat resto-resto yang mau branding, rasanya nempatin QRIS di kasir jadi bikin kurang enak buat dilihat. Gw juga males sih pajang cetakan QRIS standard. Jadi gw modif supaya desain QRIS nya bisa lebih nge-blend sama brand image gw.

Modifikasi QRIS sebenarnya merusak data, jadi tidak bisa dilakukan sembarangan. Untungnya gw ngerti soal teknisnya, jadi gw bisa modif dengan aman dan fungsinya tetap ga terganggu. Kalau ada yang minat modif desain QRIS nya supaya lebih nge-blend sama desain brand lu, bisa kontak gw. Tuh kan, gw jadi muncul ide jualan baru lagi. Haha!

 

Kesimpulan

Bagaimana menurut lu? Ada cara kreatif apa lagi ga yang mungkin ga kepikiran sama gw buat diterapin saat dine in di resto? Monggo dikomen.

Share it on your social network:

Or you can just copy and share this url
Rekomendasi Artikel