memuat...
Jakarta

Kabaret Perjalanan Dharma Guru Besar Xuan Zang

Minggu lalu saya mengikuti sebuah acara yang berlangsung selama dua hari sebagai panitia dokumentasi. Acara tersebut adalah mengenai kabaret perjalanan dharma guru besar Xuan Zang, seorang bhiksu yang berkelana ke India untuk membawa beberapa kitab suci agama Buddha untuk diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin.

Bhiksu Xuan Zang menjadi populer melalui novel berjudul “Journey to the West” yang menampilkan tiga murid fiski, salah satunya yang terkenal adalah Sun Go Kong – Si Raja Kera.

 

Tahap Persiapan – Bagaimana Saya Bisa Masuk Berpartisipasi

Saya sangat tertarik untuk berpartisipasi dalam acara kabaret ini ketika melihat sebuah trailer di youtube yang diunggah oleh salah seorang teman saya, Sutar Soemitro. Ketika saya menguhubunginya untuk menyampaikan ketertarikan saya berpartisipasi dalam acara tersebut, ia menerima saya untuk bergabung menjadi panitia dokumentasi. Saya tentu sangat gembira menerima tawaran tersebut.

Saya berencana melakukan survei sehari sebelumnya, tapi sayangnya lokasi acara saat itu sedang digunakan oleh acara lain yang tidak berhubungan dan panggung acara untuk kabaret baru akan dipersiapkan pada hari H. Jadi tidak ada gunanya melakukan survey lokasi. Meskipun demikian, saya menyewa lensa ultra lebar 10-22mm untuk berjaga-jaga. Itu saja yang saya persiapkan untuk acara ini.

Sebelum Pertunjukan – Bagian 1: Tugas Dokumentasi Umum

Hari pertama kabaret diadakan jam 7 malam. Saya tiba di lokasi pada siang hari. Saya melihat panitia lain sedang mempersiapkan panggung, stan, karpet merah, dll. Saya lalu memantau area sekitar dan mencoba lensa ultra lebar yang saya sewa.

Beberapa foto lokasi acara yang saya ambil dengan lensa ultra lebar tersebut di antaranya tamu-tamu VIP, YM. Bhiksu Ming Yi dari Biara Foo Hai Chan – Singapore dan YM. Bhiksu Kusala Sasana (Shi Xue Liang) dari Vihara Dharmasagara – Jakarta.

Pidato pembukaan oleh ketua panitia, ko Jauw Tao Ih, YM. Bhiksu Ming Yi, dan seorang perwakilan pemerintah dari dirjen Bimas Agama Buddha. Juga ada sebuah pertunjukan dari murid sekolah Mahabodhi Vidya sebelum pementasan kabaret hari pertama. Saya mengganti lensa ke tele ketika mengambil foto pertunjukan panggung.

 

Sebelum Pertunjukan – Bagian 2: Foto Candid

Ketika tamu mulai ramai berdatangan ke lokasi acara, saya aktif mondar-mandir di sekitar lokasi untuk mencari pemandangan menarik, baik di dalam maupun di luar teater.

 

Saat Pertunjukan Utama – Zoom Sedekat Mungkin

Satu fakta dari sebuah kabaret adalah, tidak ada layar besar untuk menampilkan aksi pemain ke penonton di barisan belakang supaya lebih jelas. Ini berarti, untuk menikmati drama pertunjukannya secara maksimal, seseorang harus duduk sedekat mungkin ke panggung atau mungkin mengenakan teropong.

Bahkan dengan lensa tele yang saya bawa, saya seringkali harus berada di barisan terdepan ketika memotret. Saya tidak dapat bergerak bebas selama pertunjukan karena akan mengganggu penonton lain. Satu-satunya kesempatan saya berpindah tempat adalah ketika ada jeda antar babak pertunjukan.

Kabaret Perjalanan Dharma Guru Besar Xuan Zang hanya memiliki jeda istirahat satu kali selama pertunjukan dan pertunjukannya diadakan dua kali. Ini berarti saya dapat memilih empat titik berbeda untuk memotret.

Pada hari pertama saya memotret dari tengah teater dekat pintu masuk utama saat sesi 1 dan pada sesi 2 saya memotret dari sudut kanan depan panggung. Pada hari kedua saya memotret seluruh kabaret dari sudut kiri depan panggung.

Saya tidak tahu kenapa, tapi tampaknya sisi kiri depan panggung merupakan titik pemotretan yang saya sukai secara pribadi ketika memotret pertunjukan panggung. Saya memilih titik pemotretan favorit pribadi ini pada hari kedua karena saya sudah melihat pertunjukannya pada hari pertama sehingga saya dapat mengantisipasi momennya lebih baik.

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, tidak ada layar besar untuk menampilkan aksi dan ekspresi pemain kabaret. Untuk mendapatkan drama maksimal dari kabaret, saya seringkali memotret dengan jarak terjauh lensa tele saya (320mm ekuivalen dengan jarak 200mm pada kamera APS-C).

Untuk pengaturan kamera, saya mengaturnya pada setelan 1/125s, F bukaan terbesar, ISO AUTO, partial metering with single spot AF point, dan fitur Auto Lighting Optimizer dimatikan. Dengan pengaturan ini, saya dapat membekukan gerakan kecil seperti gestur dan ekspresi pemain kabaret, menciptakan pencahayaan yang lebih dramatis, dan eksposur yang pas pada subjek yang difokuskan.

Setelah Pertunjukan – Foto Bersama Pemain Kabaret

Setelah pertunjukan selesai, para pemain kabaret dengan ramah menerima permintaan para tamu untuk befoto bersama. Sayangnya sebagai seorang fotografer, saya lebih disukai berada di belakan kamera daripada di depannya. Foto terakhir adalah foto YM. Bhiksu Kusala Sasana bersama pemain utama kabaret, Jia Shi sebagai Xuan Zang dan orang tua di sebelah kiri foto konon katanya adalah guru akting dari aktor Andy Lau lho!

Hasil foto-foto pertunjukan kabaret ini saya suguhkan dalam format video slideshow dengan maksud menekankan pada alur cerita. Video slideshow dapat dilihat di sini.

Share it on your social network:

Or you can just copy and share this url
Postingan Terkait
WhatsApp chat WhatsApp kami